๐ 1⃣
๐ *NOTULEN KAJIAN ONLINE FASIL 47* ๐
=========================
Hari, tgl : Selasa, 5 September 2017
Waktu : 19.30 - 21.00 WIB
Tempat :aula Fasil 47
Muwajjih : Ummu Nashrullah
Tema : *Aqidah*
Judul. : *Mengikuti Jalan Pengikut Uswatun Hasanah*
Moderator : Indri
Notulen : Ira Rn
========================
๐ฑ *Pembukaan* ๐ฑ
ุจุณู ุงููู ุงูุฑุญู ู ุงูุฑุญูู
ุงูุณูุงู ุนูููู ูุฑุญู ุฉ ุงููู ูุจุฑูุงุชู
๐Ta'aruf Muwajjih (CV tertera)
======
ุงَْูุญَู ْุฏَُِِّููู ุฑَุจِّ ุงْูุนَุงَูู َِْูู ุญَู ْุฏًุงَُููุงِูู ِูุนَู َُู ََُูููุงِูุฆُ ู َุฒِْูุฏَُู ,
َูุง ุฑَุจََّูุง ََูู ุงْูุญَู ْุฏُ َูู َุง َْููุจَุบَْู ِูุฌَูุงَِู ِูุฌَِْูู َูุนَุธِْูู ِ ุณُْูุทَุงِูู
ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َูุณَِّูู ْ ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุงู ُุญَู َّุฏٍ َูุนََูู ุงَِู ุณَِّูุฏَِูุงู ُุญَู َّุฏٍ ,
=======
⏳ *Materi Kajian* ⏳
๐๐ *Mengikuti Jalan Pengikut Uswatun Hasanah*๐๐
๐
_Sahabat AIHQ Academy Rahimakumullah_
*Aku, Kamu dan Mereka*
๐จ๐ป๐ณ๐ฝ♀๐ณ๐ป๐ฅ๐จ๐ป๐ณ๐ฝ♀๐ณ๐ป
๐Masalah khilafiah (perbedaan pendapat) merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia. Di antara masalah khilafiah tersebut ada yang menyelesaikannya dengan cara yang sederhana dan mudah, ada yang ta’asub (fanatik) yang berlebihan.
_Ini adalah sekedar ilustrasi, yang ada dan terjadi di dunia nyata_
๐บCeritanya di suatu warung kopi yang banyak pengunjungnya ada dialog yang menarik perhatian antara tiga orang.
๐ฝ
H : Eh lagi ngebahas apaan sih aku kagak ngarti
A : Ini adalah persoalan penting kalo nggak ngerti kamu bisa tersesat.
H : Wah, kamu yang lebay, gimana ceritanya tiba-tiba bisa sesat ... emangnye sesat dari Hongkong ... lebay is bid'ah you know !
A : Emangnya gue salah apa dibilang bid'ah, lo dateng-dateng kesini main vonis aja. Aku lagi mempertahankan agama kita dari penyimpangan.
H : Kamu sendiri kayaknya menyimpang.
A : Menyimpang belah mananya.
H : Banyak istilah aneh-aneh.
A : Ini untuk mempertahankan agama kita dari si M. Kalo kamu nggak ngerti kamu bisa ketularan sesat.
M : Enak aje kamu A aku juga sedang mempertahankan agama kita dari filsafat. Emang aku sendiri bingung tapi aku niatnya baek lho.
Ulama Salaf : sodara -sodara,...ada apa ini?, nggak ada kerjaan kah? Kok pada ngobrolin yang nggak jelas. Udah, fastabiqul Khoirot, nggak usah ngobrolin gituan.
Maka diantara H, A, M ada yang mengikuti Ulama Salaf. Tapi dialog mereka sudah banyak yang nonton, padahal yang nonton belum tentu ngerti. Jadilah perdebatan sejenis tetap berlangsung sampai sekarang.
๐ฝ
๐Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum sebagai hasil penelitian (ijtihad), tidak perlu dipandang sebagai faktor yang melemahkan kedudukan hukum Islam, bahkan sebaliknya bisa memberikan kelonggaran kepada orang banyak sebagaimana yang diharapkan Nabi :
ุงุฎุชูุงู ุงู ุชู ุฑุญู ุฉ (ุฑูุงู ุงูุจูููู ูู ุงูุฑุณุงูุฉ ุงูุงุดุนุฑูุฉ)
“Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat” (HR. Baihaqi dalam Risalah Asy’ariyyah).
Hal ini berarti, bahwa orang bisa saja memilih salah satu pendapat dari pendapat yang banyak itu, dan tidak terpaku hanya kepada satu pendapat saja.
_page 1_✍๐ป
๐๐
_Sahabat AIHQ Aca Rahimakumullah_๐
Kita akan selalu menemukan perbincangan dan perbedaan pendapat di atas baik di warung kopi hingga di media sosial.
❓Apakah yang melatarbelakangi nya...?
Mari kita simak bahasan berikut...
๐ง *MADZHAB-MADZHAB DALAM ISLAM* ๐ง
➖Mukadimah ➖
Allah Berfirman
๐“ _Dan seandainya Tuhanmu mau, niscaya Dia jadikan manusia itu umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dirahmati Tuhanmu.”_ (QS. Hud: 118-119)
๐ณ๐ฝ♀ Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Allah mengabarkan bahwa Dia mampu menjadikan manusia seluruhnya satu umat, baik dalam keimanan atau dirahmati Tuhanmu.’ Artinya, *perbedaan akan senantiasa terjadi antara manusia* . Baik tentang agama, keyakinan, millah, madzhab, dan pendapat-pendapat mereka
๐ฟ๐
๐ฃ *Secara bahasa* (etimologi), madzhab (ุงูู ุฐูุจ) berasal dari kata ุฐูุจ – ูุฐูุจ yang berarti pergi.
Jamaknya adalah madzahib ( ุงูู ุฐุงูุจ) yang berarti atthariiqah (metode, jalan, cara), al mu’taqad (sesuatu yang diyakini), dan al Ashlu (landasan, dasar).
[ِAl Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 240]
๐ *Secara istilah* (terminologi), madzhab adalah sebuah aliran pemikiran tentang sesuatu, yang metodologi dan konsep dasar pemikirannya telah baku dibuat oleh pendirinya, lalu manusia mengacu padanya. Tadinya, madzhab hanya seputar aqidah dan fiqih. Namun belakangan juga terjadi pada ekonomi, politik, seni, dan lain-lain.
๐ Dalam *kajian Islam* , istilah madzhab digunakan untuk menyebutkan *golongan pemikiran* dalam aqidah dan fiqih. Adapun dalam tasawwuf, manusia tidak menyebutnya madzhab, melainkan tarekat (thariqah). Yakni sebuah metode untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kali ini, akan kita bahas tentang madzhab-madzhab dalam bidang aqidah. Insya Allah, pada kesempatan lain akan kita bahas pula madzhab dalam bidang fiqih.
_page 2_✍๐ป
๐๐๐
_Sahabat Aca Rahimakumullah_๐ฟ
๐๐
*Madzhab dalam Aqidah (Teologi)*
๐ Pada mulanya, pemikiran Islam hanyalah satu, yaitu yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW, lalu dilanjutkan oleh orang-orang beriman setelahnya, yakni para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in.(RA).
Kelak, jalan inilah yang ditempuh oleh *Ahlus Sunnah wal Jamaah.*
๐ซ Adapun jalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah jalan setan yang dilakukan para ahli bid’ah yang sesat, yang akan memecah belah umat Islam. Sebagaimana yang digambarkan oleh al-Quran dan al- Hadits.
Allah Ta’ala berfirman:
๐ _Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), yang akan memecahbelahkan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa._ ” (QS. al-An’am: 153)
๐ก Tentang ayat ini, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, katanya, bahwa Rasulullah SAW membuat garis lurus dengan tangannya lalu ia membaca, _“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus.” Lalu, ia membuat garis di kanan dan kiri garis lurus tersebut lalu bersabda, “Inilah jalan yang tidak ada darinya kecuali pasti dilalui setan yang selalu menyeru ke jalan itu._ ” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, II/190)
๐๐ผSementara itu, kita juga diperintah untuk mengikuti jalan para sahabat.
Firman Allah Ta’ala,
๐ _Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang musyrik.”_ (QS. Yusuf: 108)
๐Namun, dalam perkembangan selanjutnya, pasca perselisihan pengikut Ali bin Abi Thalib RA dan pengikut Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, umat terpecah menjadi banyak kelompok. Khususnya setelah perundingan antara Abu Musa al-Asy’ary (utusan dari Ali) dengan Amr bin al-Ash (utusan dari Mu’awiyah). Mereka berdua sepakat bahwa kedua-duanya (Ali dan Mu’awiyah) dicopot dari jabatan khalifah. Namun, tiba-tiba Amr bin al-Ash kembali membaiat Mua’wiyah menjadi khalifah.
๐Akhirnya, pengikut Ali marah. Merekalah yang selanjutnya disebut *Syi’atu ‘Ali* (pengikut Ali, Syi’ah). Adapun kelompok manusia yang keluar dari mereka semua adalah *Khawarij* (dari kata kharaja, keluar), tidak mendukung Ali dan Muawiyah. Bahkan mengkafirkan mereka berdua. Karena "menurut mereka" Ali dan Mu’awiyah tidak menggunakan hukum Allah dalam memutuskan perdamaian. Melainkan menggunakan hukum manusia (Abu Musa dan Amr bin al-Ash). Sebenarnya, cikal bakal Khawarij sudah ada pada masa Rasulullah hidup. Namun, kisah ‘pengkhianatan’ Amr bin al-Ash ini diragukan validitas sanadnya (dhaif).
๐๐ผ Sedangkan, kelompok mayoritas tetap memuliakan Ali dan Muawiyah, dan orang-orang yang terlibat dalam perundingan. Karena semuanya adalah sahabat nabi yang mulia, dan masing-masing mempunyai keistimewaan. Para ulama mengatakan, keduanya berijtihad. Hanya saja, pihak yang benar adalah Ali. Sedangkan Mu’awiyah keliru. Namun, kesalahan dalam ijtihad mendapatkan pahala satu. Sesungguhnya, kesalahan para sahabat tidaklah menutupi setinggi gunung dan seluas samudera kebaikan yang telah mereka persembahkan untuk Islam. Itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka *pertengahan* dalam menilai masalah ini, dan masalah-masalah lainnya.
๐ณ๐ปSyaikh Said bin Ali Wahf al-Qahthany berkata, “Umat Islam adalah umat pertengahan (wasath) di antara milah-milah yang ada. Sebagaimana firman-Nya, ‘ _Dan demikianlah kami jadikan kalian umatan wasathan’._
Dan, Ahlus Sunnah merupakan umat pertengahan di antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam.”
(Said bin Ali Wahf al Qahthany, Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 48)
_page 3_✍๐ป
๐๐๐๐
_Kemudian_...
๐๐
*Madzhab* dalam menyikapi para sahabat Nabi SAW yakni *Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in*
Terbagi atas beberapa kelompok, yakni:
1⃣ *Ar-Rafidhah*, yaitu segolongan dari syi’ah, mereka melampaui batas (ghuluw) dalam memuliakan Ali RA dan Ahli Bait. Mereka memproklamirkan permusuhan terhadap mayoritas sahabat nabi seperti yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), mengkafirkan mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan mengkafirkan orang-orang yang berbeda pendapat dengan Ali (yakni ‘Aisyah dan pengikutnya ketika perang Jamal, atau Mu’awiyah dan pengikutnya dalam perang Shiffin).
๐ฃ Mereka mengatakan, sesungguhnya Ali adalah Imam yang ma’shum.
Alasan kenapa mereka dinamakan rafidhah karena mereka meninggalkan (rafadhuu) Zaid bin Ali bin al-Husein ketika mereka mengatakan berlepas diri dari syaikhain (dua syaikh) yaitu Abu bakar dan Umar. Maka Zaid berkata, “Allah melindungi penolong kakekku” (maksudnya Allah melindungi Abu Bakar dan Umar, yang pernah menolong kakeknya, Ali bin Abi Thalib). Karena itu, mereka meninggalkannya, maka mereka dinamakan rafidhah.
2⃣ *Zaidiyah*
Kelompok Zaidiyah mereka mengatakan, kami mengikuti mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) dan berlepas diri dari orang yang memutuskan hubungan dengan mereka berdua, dan mereka mengikuti Zaid bin al-Husein, karena itu mereka disebut Zaidiyah (lebih tenar disebut syi’ah zaidiyah), (syi’ah yang moderat).
3⃣ *Al-Khawarij*,
Kelompok mereka menerima sebagian besar sahabat. Namun mengkafirkan Ali,RA Mu’awiyah, dan orang-orang yang bersama mereka berdua dari kalangan sahabat, dan memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka.
4⃣ *An-Nawashib*
Kelompok yang memproklamirkan permusuhan terhadap Ahli Bait dan melaknat apa-apa yang ada pada mereka.
5⃣ *Ahlus Sunnah wal Jamaah*.
Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk tetap di atas kebenaran. Mereka bersikap tidak melampaui batas terhadap Ali RA dan Ahli bait, mereka tidak memusuhi para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim, tidak mengkafirkannya, tidak pula bersikap seperti golongan Nawashib yang memusuhi Ahli Bait.
Bahkan mereka mengetahui hak keseluruhan mereka dan keutamaannya, dan mengikuti mereka serta mengutamakan mereka sesuai urutannya; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali RA. Dan mereka tidak mau memasuki apa-apa (perselisihan) yang terjadi di antara sahabat. Maka, mereka (Ahlus Sunnah) pertengahan antara ekstremitas rafidhah atau sikap keras khawarij.
_page 4_✍๐ป
๐๐๐๐๐
_Sahabatfillah..._
๐๐
*Madzhab* berdasarkan Sikap Mereka Terhadap *Ayat atau Hadits tentang Nama dan Sifat Allah*
๐๐
๐ฑ *a. Al-Mu’athilah*,
Mereka melakukan ta’thil (mengingkari, meniadakan) nama dan sifat Allah. Bagi mereka Allah tidak memiliki nama dan sifat, sebab jika memiliki keduanya, maka Allah sama dengan makhluk. Inilah yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyah (Jahm bin Shafwan) dan mu’tazilah.
๐ฑ *b. Al-Mujassimah wal Musyabbihah,*
Mereka menganggap Allah memiliki jism (wujud) seperti manusia. Mereka melakukan tasybih (penyerupaan) dan tamtsil (perumpamaan) Allah dengan makhluk. Allah memiliki wajah seperti wajah makhluk, tangan-Nya seperti makhluk, betis-Nya seperti makhluk, marah-Nya seperti makhluk, tertawa-Nya seperti makhluk, bersemayam-Nya seperti makhluk, dan lain-lain.
๐ฑ *c. Al-Asy’ariyah (al-Asya’irah)*
Kelompok ini disandarkan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari r.a. Salah seorang Imam Ahlus Sunnah. Dahulu, selama tiga puluh tahun ia bermadzhab mu’tazilah (mengingkari asma dan sifat) karena pengaruh ayah tirinya seorang tokoh mu’tazilah zaman itu, yaitu Ali al-Juba’i.
๐ Lalu, ia bertobat menuju Ahlus Sunnah, yaitu ia mengakui asma dan sifat Allah Tabaraka wa Ta’ala, namun ia memberikan ta’wil (arti-tafsir) terhadap asma dan sifat tersebut. Fase selanjutnya, yaitu pada akhir hayatnya, ia meninggalkan ta’wil secara total terhadap asma dan sifat, ia mengikuti manhaj salaf yaitu itsbat (menetapkan dan mengukuhkan) adanya asma dan sifat. Sebagaimana tertera dalam kitabnya yang terakhir yakni al-Ibanah fi Ushulid Diyanah. Jadi, ia melalui tiga fase kehidupan bermadzhab.
_Pertama_ , menjadi mu’tazilah. _Kedua_, menjadi Ahlus Sunnah tetapi masih menta’wil. _Ketiga_, menjadi Ahlus Sunnah secara sempurna tanpa ta’wil sama sekali.
๐กNah, _Asy’ariyah adalah golongan yang mengikuti Imam al-Asy’ary pada fase hidupnya yang kedua masih melakukan ta’wil. Jadi, tidak selalu sama antara Asy’ariyah dengan Imam al Asy’ari._
๐ณ๐ป Menurut Syaikh Yusuf al-Qaradhawi hafizhahullah, golongan inilah yang menjadi anutan mayoritas ulama dan umat Islam di dunia, walau belum ada datanya. Berbagai universitas menjadikannya sebagai teologi resmi, seperti Universitas al-Azhar, Universitas Karachi di Pakistan, Universitas Punjab di India, Universitas Deobond di India, Universitas az-Zaitun di Tunisia, Universitas Qarwayain di Maroko, pesantren-pesantren di Indonesia, organisasi massa seperti Nahdlatul Ulama, Jamiat Khair, dan lain-lain.
๐ก Sebagian manusia, khususnya kaum progresif menganggap mereka ahli bid’ah. Sebagian lagi mengatakan, mereka adalah bagian dari _paling tidak mendekati_ Ahlus Sunnah.
Inilah pendapat yang lebih baik dan benar. Sebab, menuduh mereka sebagai ahli bid’ah (bukan Ahlus Sunnah) sama saja menuduh mayoritas umat ini dan ulamanya dalam kesesatan.
๐ณ๐ผ♀๐ณ๐พPara Imam besar adalah pengikut Asy’ariyah seperti Imam al-Baqillani, Imam al-Isfirayini, Imam al-Haramain (al-Juwaini), Imam al-Ghazali, Imam Fakhrurazi, Imam al-Baidhawi, Imam al-‘Amidi, Imam asy-Syahrustani, Imam Abul Faraj Ibnu al-Jauzi, Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, Imam Zainuddin al-‘Iraqi, Imam Izzuddin bin Abdussalam, Imam an-Nawawi, Imam ar-Rafi’i, Imam Ibnu Hajar al-Haitamy, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam as-Suyuthi, Imam an-Nasafi, Imam asy-Syarbini, Imam Zakariya al-Anshari. Dari Barat, Imam at-Tarthusi, Imam al-Maziri, Imam al-Baji, Imam Ibnu Rusyd (al-Jad), Imam Ibnul ‘Arabi, Imam al-Qadhi ‘Iyadh, Imam al-Qurthubi, Imam al-Qarafi, Imam asy-Syathibi. Dari Hanafi, Imam al-Khurki, Imam al-Jashshash, Imam ad-Dabusi, Imam as-Sarkhasi, Imam as-Samarqandi, Imam al-Kisani, Imam Ibnul Hammam, Imam Ibnu Nujaim, Imam al-Taftazani, dan Imam al-Bazdawi.
(Yusuf al-Qaradhawi book)
Biasanya kepada mereka inilah yang disebut golongan khalaf.
๐กMaka, wajar jika Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam Fatawa-nya tentang para ulama Asy’ariyah, “ _Ulama pembela ulama-ulama agama. Ulama Asy’ariyah adalah pembela pokok-pokok agama.”_
(Muhammad ‘Alwy al-Maliky, Paham-Paham Yang Perlu Diluruskan, hal. 132)
๐ฑ *d. Ahlus Sunnah wal Jamaah* (madzhab salaf)
Mereka itsbat (menetapkan dan mengukuhkan) adanya nama dan sifat Allah. Tanpa mengingkarinya (ta’thil), tidak menyerupakan dengan makhluk (tamtsil), tidak melakukan ta’wil, tidak mengubahnya (tahrif), tidak bertanya bagaimana (takyif), dan mereka membiarkannya sebagaimana datangnya, mengimani makna-maknanya dan apa-apa yang ada padanya.
๐ Ahlus Sunnah (salaf) menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya secara rinci “Dan Dia Maha Mendengar (As Samii’) dan Maha Melihat (Al Bashir)”, maka apa saja yang Allah dan rasul-Nya tetapkan untuk diri-Nya dari seluruh nama dan sifat, maka kita tetapkan adanya (nama dan sifat tersebut) untuk Allah dengan cara yang patut bagi-Nya.
๐ Ahlus Sunnah juga mengingkari apa-apa yang Allah dan rasul-Nya ingkari dari diri-Nya secara global dan menyeluruh, sesuai firman-Nya, ” _Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya.”_ (QS. asy-Syura: 11)
๐ณ๐ป Berkata al-Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah, ” *Adapun salaf –ridhwanullah ‘alaihim- mereka mengatakan, ‘Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sebagaimana datangnya, dan menyerahkan maksudnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mereka itsbat (menetapkan) adanya tangan, mata, bersemayam, tertawa, ta’jub, ….dan lain-lain. semua itu kita tidak mencapai maknanya dan seluruh kandungan ilmunya kita serahkan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.* (Al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, Majmu’ah ar-Rasail)
25 nabi dan Rasul Allah wajib kita ketahui
2 Rasul sebagai Uswatun Hasanah Yakni Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
Para pengikut Nabi SAW adalah sahabat Salaf *ridhwanullah ‘alaihim*
❓Apakah sahabat sudah mengenali dan mengikuti mereka dengan benar..?
Wallahu A'lam bishawab
Sumber ๐ Dakwatuna
_page 5_✍๐ป๐๐HR
===========
๐NICE QUESTIONS๐
Tanya jawab
1⃣๐ Anik tanya
Sebagai org yang fakir ilmu spt saya ini sikap sederhana apa dalam menghadapi perbedaan pendapat ulama2 ustadzah?
Jawab :
Ukhti Anik, sikap kt dlm menghadapi perbedaan adalah saling menghormati dan menghargai, dan kt menjalankan apa yg kt yakini, hindari perdebatan krn ukhuwah lbh utama dr perpecahan
2⃣๐ hermin juga mau tanya..... Dari sekian banyak madzhab .... Madzhab mana yg bisa kita jadikan panutan dalam kehidupan kita sekarang ...
Jawab : Ukhti Eno mazhab Ahli Sunnah Waljamaah yg pertengahan, tdk berlebihan dan mengikuti Al Qur'an dan sunnah Rasul.
3⃣๐๐ป eno 3399
bagaimana kita mengetahui sesuatu hal itu bid'ah atau bukan sedangkan pengetahun soal sunnah2 Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam masih sedikit.
Jawab : Ukhti Eno kt byk membaca buku dan belajar, pelajari Riyadush Shalihin, Hadist Buchari Muslim, Hadist Arbain
4⃣Iza-3405
izin tanya ya ukh moderator..
Bunda dwi di daerah saya kan masyarakatnya banyak yg ikut kaya thariqat2 gitu bun.. itu boleh gak si bun sebenarnya?
Jawab : Thariqat itu byk yg hanya berdasarkan adat kebiasaan dan byk yg tdk berdasarkan sunnah Rasulullah jd kt kembali kpd dasarnya yaitu Al Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW
5⃣Maria SG 1,(1671)bertanya..
1. Kl ngomongin bid'ah pada dasarnya dlm kehidupan kita semua melakukan bid'ah,bgmn pandangan ustadzah dlm hal ini..?
2. Kl sebagian mengaku bahwa dirinya yg benar sesuai dg Al Qur'an dan Sunnah Rosul dan yg lainnya salah, bagaimana dg islam yg Rohmatal lil 'aalamiin... ๐๐ป
Jawab :
Jawaban ukhti Maria :
1. Bid'ah itu ada 2
macam yakni :
- bid'ah hasanah (baik)
spt maulid, Isra
mi"raj dll
- bid'ah sayiah (buruk)
spt sajen dll
2. Kl islam sbg Rahmatan lil alamiin, hrs mulai dr diri sendiri dan mendakwahkan kpd org lain dgn mengajak kpd kebaikan
6⃣ Sarmi 3394
Bagaimana dengan tahlil yasin dan istighosah apakah juga termasuk bid ah
Jawab :
Mbak Sarni memang hal2 tsb termasuk kebiasaan zaman dulu ketika Islam msk ke ind lwt wali songo, utk itu sedikit2 kt kurangi spt yasin diganti dgn tilawah, tahlil diganti dgn zikir matsurat mulai dr diri dan keluarga kita
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Akhwatifillah perbedaan itu rahmat dan pertikaian itu suatu musibah, jadi kt baiknya bersikap sesuau dgn Al Qur'an dan Sunnah Rasul serta menghargai perbedaan yg ada serta menjalani apa yg kt yakini, sehingga ukhuwah dpt teralisasi dan Islam dpt menjadi Rahmatan lil Alamiin Amiin
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐ *NOTULEN KAJIAN ONLINE FASIL 47* ๐
=========================
Hari, tgl : Selasa, 5 September 2017
Waktu : 19.30 - 21.00 WIB
Tempat :aula Fasil 47
Muwajjih : Ummu Nashrullah
Tema : *Aqidah*
Judul. : *Mengikuti Jalan Pengikut Uswatun Hasanah*
Moderator : Indri
Notulen : Ira Rn
========================
๐ฑ *Pembukaan* ๐ฑ
ุจุณู ุงููู ุงูุฑุญู ู ุงูุฑุญูู
ุงูุณูุงู ุนูููู ูุฑุญู ุฉ ุงููู ูุจุฑูุงุชู
๐Ta'aruf Muwajjih (CV tertera)
======
ุงَْูุญَู ْุฏَُِِّููู ุฑَุจِّ ุงْูุนَุงَูู َِْูู ุญَู ْุฏًุงَُููุงِูู ِูุนَู َُู ََُูููุงِูุฆُ ู َุฒِْูุฏَُู ,
َูุง ุฑَุจََّูุง ََูู ุงْูุญَู ْุฏُ َูู َุง َْููุจَุบَْู ِูุฌَูุงَِู ِูุฌَِْูู َูุนَุธِْูู ِ ุณُْูุทَุงِูู
ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َูุณَِّูู ْ ุนََูู ุณَِّูุฏَِูุงู ُุญَู َّุฏٍ َูุนََูู ุงَِู ุณَِّูุฏَِูุงู ُุญَู َّุฏٍ ,
=======
⏳ *Materi Kajian* ⏳
๐๐ *Mengikuti Jalan Pengikut Uswatun Hasanah*๐๐
๐
_Sahabat AIHQ Academy Rahimakumullah_
*Aku, Kamu dan Mereka*
๐จ๐ป๐ณ๐ฝ♀๐ณ๐ป๐ฅ๐จ๐ป๐ณ๐ฝ♀๐ณ๐ป
๐Masalah khilafiah (perbedaan pendapat) merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia. Di antara masalah khilafiah tersebut ada yang menyelesaikannya dengan cara yang sederhana dan mudah, ada yang ta’asub (fanatik) yang berlebihan.
_Ini adalah sekedar ilustrasi, yang ada dan terjadi di dunia nyata_
๐บCeritanya di suatu warung kopi yang banyak pengunjungnya ada dialog yang menarik perhatian antara tiga orang.
๐ฝ
H : Eh lagi ngebahas apaan sih aku kagak ngarti
A : Ini adalah persoalan penting kalo nggak ngerti kamu bisa tersesat.
H : Wah, kamu yang lebay, gimana ceritanya tiba-tiba bisa sesat ... emangnye sesat dari Hongkong ... lebay is bid'ah you know !
A : Emangnya gue salah apa dibilang bid'ah, lo dateng-dateng kesini main vonis aja. Aku lagi mempertahankan agama kita dari penyimpangan.
H : Kamu sendiri kayaknya menyimpang.
A : Menyimpang belah mananya.
H : Banyak istilah aneh-aneh.
A : Ini untuk mempertahankan agama kita dari si M. Kalo kamu nggak ngerti kamu bisa ketularan sesat.
M : Enak aje kamu A aku juga sedang mempertahankan agama kita dari filsafat. Emang aku sendiri bingung tapi aku niatnya baek lho.
Ulama Salaf : sodara -sodara,...ada apa ini?, nggak ada kerjaan kah? Kok pada ngobrolin yang nggak jelas. Udah, fastabiqul Khoirot, nggak usah ngobrolin gituan.
Maka diantara H, A, M ada yang mengikuti Ulama Salaf. Tapi dialog mereka sudah banyak yang nonton, padahal yang nonton belum tentu ngerti. Jadilah perdebatan sejenis tetap berlangsung sampai sekarang.
๐ฝ
๐Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum sebagai hasil penelitian (ijtihad), tidak perlu dipandang sebagai faktor yang melemahkan kedudukan hukum Islam, bahkan sebaliknya bisa memberikan kelonggaran kepada orang banyak sebagaimana yang diharapkan Nabi :
ุงุฎุชูุงู ุงู ุชู ุฑุญู ุฉ (ุฑูุงู ุงูุจูููู ูู ุงูุฑุณุงูุฉ ุงูุงุดุนุฑูุฉ)
“Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat” (HR. Baihaqi dalam Risalah Asy’ariyyah).
Hal ini berarti, bahwa orang bisa saja memilih salah satu pendapat dari pendapat yang banyak itu, dan tidak terpaku hanya kepada satu pendapat saja.
_page 1_✍๐ป
๐๐
_Sahabat AIHQ Aca Rahimakumullah_๐
Kita akan selalu menemukan perbincangan dan perbedaan pendapat di atas baik di warung kopi hingga di media sosial.
❓Apakah yang melatarbelakangi nya...?
Mari kita simak bahasan berikut...
๐ง *MADZHAB-MADZHAB DALAM ISLAM* ๐ง
➖Mukadimah ➖
Allah Berfirman
๐“ _Dan seandainya Tuhanmu mau, niscaya Dia jadikan manusia itu umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dirahmati Tuhanmu.”_ (QS. Hud: 118-119)
๐ณ๐ฝ♀ Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Allah mengabarkan bahwa Dia mampu menjadikan manusia seluruhnya satu umat, baik dalam keimanan atau dirahmati Tuhanmu.’ Artinya, *perbedaan akan senantiasa terjadi antara manusia* . Baik tentang agama, keyakinan, millah, madzhab, dan pendapat-pendapat mereka
๐ฟ๐
๐ฃ *Secara bahasa* (etimologi), madzhab (ุงูู ุฐูุจ) berasal dari kata ุฐูุจ – ูุฐูุจ yang berarti pergi.
Jamaknya adalah madzahib ( ุงูู ุฐุงูุจ) yang berarti atthariiqah (metode, jalan, cara), al mu’taqad (sesuatu yang diyakini), dan al Ashlu (landasan, dasar).
[ِAl Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 240]
๐ *Secara istilah* (terminologi), madzhab adalah sebuah aliran pemikiran tentang sesuatu, yang metodologi dan konsep dasar pemikirannya telah baku dibuat oleh pendirinya, lalu manusia mengacu padanya. Tadinya, madzhab hanya seputar aqidah dan fiqih. Namun belakangan juga terjadi pada ekonomi, politik, seni, dan lain-lain.
๐ Dalam *kajian Islam* , istilah madzhab digunakan untuk menyebutkan *golongan pemikiran* dalam aqidah dan fiqih. Adapun dalam tasawwuf, manusia tidak menyebutnya madzhab, melainkan tarekat (thariqah). Yakni sebuah metode untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kali ini, akan kita bahas tentang madzhab-madzhab dalam bidang aqidah. Insya Allah, pada kesempatan lain akan kita bahas pula madzhab dalam bidang fiqih.
_page 2_✍๐ป
๐๐๐
_Sahabat Aca Rahimakumullah_๐ฟ
๐๐
*Madzhab dalam Aqidah (Teologi)*
๐ Pada mulanya, pemikiran Islam hanyalah satu, yaitu yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW, lalu dilanjutkan oleh orang-orang beriman setelahnya, yakni para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in.(RA).
Kelak, jalan inilah yang ditempuh oleh *Ahlus Sunnah wal Jamaah.*
๐ซ Adapun jalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah jalan setan yang dilakukan para ahli bid’ah yang sesat, yang akan memecah belah umat Islam. Sebagaimana yang digambarkan oleh al-Quran dan al- Hadits.
Allah Ta’ala berfirman:
๐ _Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), yang akan memecahbelahkan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa._ ” (QS. al-An’am: 153)
๐ก Tentang ayat ini, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, katanya, bahwa Rasulullah SAW membuat garis lurus dengan tangannya lalu ia membaca, _“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus.” Lalu, ia membuat garis di kanan dan kiri garis lurus tersebut lalu bersabda, “Inilah jalan yang tidak ada darinya kecuali pasti dilalui setan yang selalu menyeru ke jalan itu._ ” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, II/190)
๐๐ผSementara itu, kita juga diperintah untuk mengikuti jalan para sahabat.
Firman Allah Ta’ala,
๐ _Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang musyrik.”_ (QS. Yusuf: 108)
๐Namun, dalam perkembangan selanjutnya, pasca perselisihan pengikut Ali bin Abi Thalib RA dan pengikut Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, umat terpecah menjadi banyak kelompok. Khususnya setelah perundingan antara Abu Musa al-Asy’ary (utusan dari Ali) dengan Amr bin al-Ash (utusan dari Mu’awiyah). Mereka berdua sepakat bahwa kedua-duanya (Ali dan Mu’awiyah) dicopot dari jabatan khalifah. Namun, tiba-tiba Amr bin al-Ash kembali membaiat Mua’wiyah menjadi khalifah.
๐Akhirnya, pengikut Ali marah. Merekalah yang selanjutnya disebut *Syi’atu ‘Ali* (pengikut Ali, Syi’ah). Adapun kelompok manusia yang keluar dari mereka semua adalah *Khawarij* (dari kata kharaja, keluar), tidak mendukung Ali dan Muawiyah. Bahkan mengkafirkan mereka berdua. Karena "menurut mereka" Ali dan Mu’awiyah tidak menggunakan hukum Allah dalam memutuskan perdamaian. Melainkan menggunakan hukum manusia (Abu Musa dan Amr bin al-Ash). Sebenarnya, cikal bakal Khawarij sudah ada pada masa Rasulullah hidup. Namun, kisah ‘pengkhianatan’ Amr bin al-Ash ini diragukan validitas sanadnya (dhaif).
๐๐ผ Sedangkan, kelompok mayoritas tetap memuliakan Ali dan Muawiyah, dan orang-orang yang terlibat dalam perundingan. Karena semuanya adalah sahabat nabi yang mulia, dan masing-masing mempunyai keistimewaan. Para ulama mengatakan, keduanya berijtihad. Hanya saja, pihak yang benar adalah Ali. Sedangkan Mu’awiyah keliru. Namun, kesalahan dalam ijtihad mendapatkan pahala satu. Sesungguhnya, kesalahan para sahabat tidaklah menutupi setinggi gunung dan seluas samudera kebaikan yang telah mereka persembahkan untuk Islam. Itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka *pertengahan* dalam menilai masalah ini, dan masalah-masalah lainnya.
๐ณ๐ปSyaikh Said bin Ali Wahf al-Qahthany berkata, “Umat Islam adalah umat pertengahan (wasath) di antara milah-milah yang ada. Sebagaimana firman-Nya, ‘ _Dan demikianlah kami jadikan kalian umatan wasathan’._
Dan, Ahlus Sunnah merupakan umat pertengahan di antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam.”
(Said bin Ali Wahf al Qahthany, Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 48)
_page 3_✍๐ป
๐๐๐๐
_Kemudian_...
๐๐
*Madzhab* dalam menyikapi para sahabat Nabi SAW yakni *Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in*
Terbagi atas beberapa kelompok, yakni:
1⃣ *Ar-Rafidhah*, yaitu segolongan dari syi’ah, mereka melampaui batas (ghuluw) dalam memuliakan Ali RA dan Ahli Bait. Mereka memproklamirkan permusuhan terhadap mayoritas sahabat nabi seperti yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), mengkafirkan mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan mengkafirkan orang-orang yang berbeda pendapat dengan Ali (yakni ‘Aisyah dan pengikutnya ketika perang Jamal, atau Mu’awiyah dan pengikutnya dalam perang Shiffin).
๐ฃ Mereka mengatakan, sesungguhnya Ali adalah Imam yang ma’shum.
Alasan kenapa mereka dinamakan rafidhah karena mereka meninggalkan (rafadhuu) Zaid bin Ali bin al-Husein ketika mereka mengatakan berlepas diri dari syaikhain (dua syaikh) yaitu Abu bakar dan Umar. Maka Zaid berkata, “Allah melindungi penolong kakekku” (maksudnya Allah melindungi Abu Bakar dan Umar, yang pernah menolong kakeknya, Ali bin Abi Thalib). Karena itu, mereka meninggalkannya, maka mereka dinamakan rafidhah.
2⃣ *Zaidiyah*
Kelompok Zaidiyah mereka mengatakan, kami mengikuti mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) dan berlepas diri dari orang yang memutuskan hubungan dengan mereka berdua, dan mereka mengikuti Zaid bin al-Husein, karena itu mereka disebut Zaidiyah (lebih tenar disebut syi’ah zaidiyah), (syi’ah yang moderat).
3⃣ *Al-Khawarij*,
Kelompok mereka menerima sebagian besar sahabat. Namun mengkafirkan Ali,RA Mu’awiyah, dan orang-orang yang bersama mereka berdua dari kalangan sahabat, dan memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka.
4⃣ *An-Nawashib*
Kelompok yang memproklamirkan permusuhan terhadap Ahli Bait dan melaknat apa-apa yang ada pada mereka.
5⃣ *Ahlus Sunnah wal Jamaah*.
Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk tetap di atas kebenaran. Mereka bersikap tidak melampaui batas terhadap Ali RA dan Ahli bait, mereka tidak memusuhi para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim, tidak mengkafirkannya, tidak pula bersikap seperti golongan Nawashib yang memusuhi Ahli Bait.
Bahkan mereka mengetahui hak keseluruhan mereka dan keutamaannya, dan mengikuti mereka serta mengutamakan mereka sesuai urutannya; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali RA. Dan mereka tidak mau memasuki apa-apa (perselisihan) yang terjadi di antara sahabat. Maka, mereka (Ahlus Sunnah) pertengahan antara ekstremitas rafidhah atau sikap keras khawarij.
_page 4_✍๐ป
๐๐๐๐๐
_Sahabatfillah..._
๐๐
*Madzhab* berdasarkan Sikap Mereka Terhadap *Ayat atau Hadits tentang Nama dan Sifat Allah*
๐๐
๐ฑ *a. Al-Mu’athilah*,
Mereka melakukan ta’thil (mengingkari, meniadakan) nama dan sifat Allah. Bagi mereka Allah tidak memiliki nama dan sifat, sebab jika memiliki keduanya, maka Allah sama dengan makhluk. Inilah yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyah (Jahm bin Shafwan) dan mu’tazilah.
๐ฑ *b. Al-Mujassimah wal Musyabbihah,*
Mereka menganggap Allah memiliki jism (wujud) seperti manusia. Mereka melakukan tasybih (penyerupaan) dan tamtsil (perumpamaan) Allah dengan makhluk. Allah memiliki wajah seperti wajah makhluk, tangan-Nya seperti makhluk, betis-Nya seperti makhluk, marah-Nya seperti makhluk, tertawa-Nya seperti makhluk, bersemayam-Nya seperti makhluk, dan lain-lain.
๐ฑ *c. Al-Asy’ariyah (al-Asya’irah)*
Kelompok ini disandarkan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari r.a. Salah seorang Imam Ahlus Sunnah. Dahulu, selama tiga puluh tahun ia bermadzhab mu’tazilah (mengingkari asma dan sifat) karena pengaruh ayah tirinya seorang tokoh mu’tazilah zaman itu, yaitu Ali al-Juba’i.
๐ Lalu, ia bertobat menuju Ahlus Sunnah, yaitu ia mengakui asma dan sifat Allah Tabaraka wa Ta’ala, namun ia memberikan ta’wil (arti-tafsir) terhadap asma dan sifat tersebut. Fase selanjutnya, yaitu pada akhir hayatnya, ia meninggalkan ta’wil secara total terhadap asma dan sifat, ia mengikuti manhaj salaf yaitu itsbat (menetapkan dan mengukuhkan) adanya asma dan sifat. Sebagaimana tertera dalam kitabnya yang terakhir yakni al-Ibanah fi Ushulid Diyanah. Jadi, ia melalui tiga fase kehidupan bermadzhab.
_Pertama_ , menjadi mu’tazilah. _Kedua_, menjadi Ahlus Sunnah tetapi masih menta’wil. _Ketiga_, menjadi Ahlus Sunnah secara sempurna tanpa ta’wil sama sekali.
๐กNah, _Asy’ariyah adalah golongan yang mengikuti Imam al-Asy’ary pada fase hidupnya yang kedua masih melakukan ta’wil. Jadi, tidak selalu sama antara Asy’ariyah dengan Imam al Asy’ari._
๐ณ๐ป Menurut Syaikh Yusuf al-Qaradhawi hafizhahullah, golongan inilah yang menjadi anutan mayoritas ulama dan umat Islam di dunia, walau belum ada datanya. Berbagai universitas menjadikannya sebagai teologi resmi, seperti Universitas al-Azhar, Universitas Karachi di Pakistan, Universitas Punjab di India, Universitas Deobond di India, Universitas az-Zaitun di Tunisia, Universitas Qarwayain di Maroko, pesantren-pesantren di Indonesia, organisasi massa seperti Nahdlatul Ulama, Jamiat Khair, dan lain-lain.
๐ก Sebagian manusia, khususnya kaum progresif menganggap mereka ahli bid’ah. Sebagian lagi mengatakan, mereka adalah bagian dari _paling tidak mendekati_ Ahlus Sunnah.
Inilah pendapat yang lebih baik dan benar. Sebab, menuduh mereka sebagai ahli bid’ah (bukan Ahlus Sunnah) sama saja menuduh mayoritas umat ini dan ulamanya dalam kesesatan.
๐ณ๐ผ♀๐ณ๐พPara Imam besar adalah pengikut Asy’ariyah seperti Imam al-Baqillani, Imam al-Isfirayini, Imam al-Haramain (al-Juwaini), Imam al-Ghazali, Imam Fakhrurazi, Imam al-Baidhawi, Imam al-‘Amidi, Imam asy-Syahrustani, Imam Abul Faraj Ibnu al-Jauzi, Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, Imam Zainuddin al-‘Iraqi, Imam Izzuddin bin Abdussalam, Imam an-Nawawi, Imam ar-Rafi’i, Imam Ibnu Hajar al-Haitamy, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam as-Suyuthi, Imam an-Nasafi, Imam asy-Syarbini, Imam Zakariya al-Anshari. Dari Barat, Imam at-Tarthusi, Imam al-Maziri, Imam al-Baji, Imam Ibnu Rusyd (al-Jad), Imam Ibnul ‘Arabi, Imam al-Qadhi ‘Iyadh, Imam al-Qurthubi, Imam al-Qarafi, Imam asy-Syathibi. Dari Hanafi, Imam al-Khurki, Imam al-Jashshash, Imam ad-Dabusi, Imam as-Sarkhasi, Imam as-Samarqandi, Imam al-Kisani, Imam Ibnul Hammam, Imam Ibnu Nujaim, Imam al-Taftazani, dan Imam al-Bazdawi.
(Yusuf al-Qaradhawi book)
Biasanya kepada mereka inilah yang disebut golongan khalaf.
๐กMaka, wajar jika Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam Fatawa-nya tentang para ulama Asy’ariyah, “ _Ulama pembela ulama-ulama agama. Ulama Asy’ariyah adalah pembela pokok-pokok agama.”_
(Muhammad ‘Alwy al-Maliky, Paham-Paham Yang Perlu Diluruskan, hal. 132)
๐ฑ *d. Ahlus Sunnah wal Jamaah* (madzhab salaf)
Mereka itsbat (menetapkan dan mengukuhkan) adanya nama dan sifat Allah. Tanpa mengingkarinya (ta’thil), tidak menyerupakan dengan makhluk (tamtsil), tidak melakukan ta’wil, tidak mengubahnya (tahrif), tidak bertanya bagaimana (takyif), dan mereka membiarkannya sebagaimana datangnya, mengimani makna-maknanya dan apa-apa yang ada padanya.
๐ Ahlus Sunnah (salaf) menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya secara rinci “Dan Dia Maha Mendengar (As Samii’) dan Maha Melihat (Al Bashir)”, maka apa saja yang Allah dan rasul-Nya tetapkan untuk diri-Nya dari seluruh nama dan sifat, maka kita tetapkan adanya (nama dan sifat tersebut) untuk Allah dengan cara yang patut bagi-Nya.
๐ Ahlus Sunnah juga mengingkari apa-apa yang Allah dan rasul-Nya ingkari dari diri-Nya secara global dan menyeluruh, sesuai firman-Nya, ” _Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya.”_ (QS. asy-Syura: 11)
๐ณ๐ป Berkata al-Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah, ” *Adapun salaf –ridhwanullah ‘alaihim- mereka mengatakan, ‘Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sebagaimana datangnya, dan menyerahkan maksudnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mereka itsbat (menetapkan) adanya tangan, mata, bersemayam, tertawa, ta’jub, ….dan lain-lain. semua itu kita tidak mencapai maknanya dan seluruh kandungan ilmunya kita serahkan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.* (Al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, Majmu’ah ar-Rasail)
25 nabi dan Rasul Allah wajib kita ketahui
2 Rasul sebagai Uswatun Hasanah Yakni Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
Para pengikut Nabi SAW adalah sahabat Salaf *ridhwanullah ‘alaihim*
❓Apakah sahabat sudah mengenali dan mengikuti mereka dengan benar..?
Wallahu A'lam bishawab
Sumber ๐ Dakwatuna
_page 5_✍๐ป๐๐HR
===========
๐NICE QUESTIONS๐
Tanya jawab
1⃣๐ Anik tanya
Sebagai org yang fakir ilmu spt saya ini sikap sederhana apa dalam menghadapi perbedaan pendapat ulama2 ustadzah?
Jawab :
Ukhti Anik, sikap kt dlm menghadapi perbedaan adalah saling menghormati dan menghargai, dan kt menjalankan apa yg kt yakini, hindari perdebatan krn ukhuwah lbh utama dr perpecahan
2⃣๐ hermin juga mau tanya..... Dari sekian banyak madzhab .... Madzhab mana yg bisa kita jadikan panutan dalam kehidupan kita sekarang ...
Jawab : Ukhti Eno mazhab Ahli Sunnah Waljamaah yg pertengahan, tdk berlebihan dan mengikuti Al Qur'an dan sunnah Rasul.
3⃣๐๐ป eno 3399
bagaimana kita mengetahui sesuatu hal itu bid'ah atau bukan sedangkan pengetahun soal sunnah2 Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam masih sedikit.
Jawab : Ukhti Eno kt byk membaca buku dan belajar, pelajari Riyadush Shalihin, Hadist Buchari Muslim, Hadist Arbain
4⃣Iza-3405
izin tanya ya ukh moderator..
Bunda dwi di daerah saya kan masyarakatnya banyak yg ikut kaya thariqat2 gitu bun.. itu boleh gak si bun sebenarnya?
Jawab : Thariqat itu byk yg hanya berdasarkan adat kebiasaan dan byk yg tdk berdasarkan sunnah Rasulullah jd kt kembali kpd dasarnya yaitu Al Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW
5⃣Maria SG 1,(1671)bertanya..
1. Kl ngomongin bid'ah pada dasarnya dlm kehidupan kita semua melakukan bid'ah,bgmn pandangan ustadzah dlm hal ini..?
2. Kl sebagian mengaku bahwa dirinya yg benar sesuai dg Al Qur'an dan Sunnah Rosul dan yg lainnya salah, bagaimana dg islam yg Rohmatal lil 'aalamiin... ๐๐ป
Jawab :
Jawaban ukhti Maria :
1. Bid'ah itu ada 2
macam yakni :
- bid'ah hasanah (baik)
spt maulid, Isra
mi"raj dll
- bid'ah sayiah (buruk)
spt sajen dll
2. Kl islam sbg Rahmatan lil alamiin, hrs mulai dr diri sendiri dan mendakwahkan kpd org lain dgn mengajak kpd kebaikan
6⃣ Sarmi 3394
Bagaimana dengan tahlil yasin dan istighosah apakah juga termasuk bid ah
Jawab :
Mbak Sarni memang hal2 tsb termasuk kebiasaan zaman dulu ketika Islam msk ke ind lwt wali songo, utk itu sedikit2 kt kurangi spt yasin diganti dgn tilawah, tahlil diganti dgn zikir matsurat mulai dr diri dan keluarga kita
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Akhwatifillah perbedaan itu rahmat dan pertikaian itu suatu musibah, jadi kt baiknya bersikap sesuau dgn Al Qur'an dan Sunnah Rasul serta menghargai perbedaan yg ada serta menjalani apa yg kt yakini, sehingga ukhuwah dpt teralisasi dan Islam dpt menjadi Rahmatan lil Alamiin Amiin
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Komentar
Posting Komentar