๐ Sabtu, 1 September 2018
⏰ 19.30 wib s/d selesai
๐ *Ketika Amanah Menguji Kematangan Emosi*
Ust M. Rozi
➖➖➖➖➖➖➖➖
Materi dan notulen kajian online AIHQ-DK.PSDM ODOJ bisa dilihat di ๐๐ป
https://aihqodoj.blogspot.com
➖➖➖➖➖➖➖➖
๐ Materi ๐
Segenggam Amanah dan Janji Allah
Saya tidak mengira kisah yang saya baca di masa kecil akan menjadi pembuka tulisan ini. Masih membekas dalam ingatan, kisah itu tentang ketegaran hati seorang Khalid bin Walid yang menghadapi pemecatan dirinya sebagai panglima perang oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a.
Disebutkan bahwa Khalifah Umar tidak menghendaki kemenangan demi kemenangan yang diperoleh Khalid dalam peperangan membuat orang hanya berpikir tentang kehebatan si Pedang Allah. Khalifah Al Faruq menegaskan tidak ada kebencian dirinya terhadap Khalid, juga bukan karena sang panglima telah berkhianat. Umar hanya berharap setiap orang tidak melupakan bahwa Allah-lah yang memberikan semua kemenangan.
Apa reaksi Khalid saat itu? “Aku berperang bukan karena Umar, aku berperang karena Allah…” Ketegangan dan kekecewaan dalam pasukan Khalid mereda. Apalagi mereka melihat Khalid tetap setia bertahun-tahun di belakang panglima yang baru tanpa pernah membantahnya.
Bayangkanlah jika kita berada dalam posisi Khalid bin Walid. Keberhasilan demi keberhasilan, sanjungan dan pengakuan tentang kehebatan dirinya, seakan-akan lenyap seketika oleh beberapa penggal kalimat tegas dari salah satu khalifah yang lurus. Tapi tidak… kehebatan Khalid tidak lenyap. Bahkan kebesaran jiwanya menerima titah dari Madinah itu telah melampaui semua kehebatan yang pernah ia capai.
Menjadi panglima atau jabatan apapun, dari yang tinggi sampai yang rendah, bukanlah perolehan. Sehebat-hebatnya Khalid, jika saat itu Khalifah Abu Bakar tidak mengembankan tugas menjadi panglima, ia hanyalah prajurit biasa. Mungkin paling jauh kepala regu.
Bagi seorang Khalid, menjadi panglima adalah amanah. Yang diberikannya untuk menunaikan amanah adalah komitmen melaksanakannya dengan sepenuh hati. Ketika titipan itu ditarik lagi oleh yang memberinya, maka tak ada sikap yang lebih baik kecuali mengikhlaskannya. Dan Khalid telah membuktikan itu dengan ucapan yang menenangkan pasukan muslimin dan semua orang.
Pikiran nakal saya kemudian bertanya: masak sih, sebagai manusia beliau tidak ada kecewa-kecewanya, atau marah barang sedikit? Sisi-sisi lemah dari sifat manusiawi seperti ini wajar saja muncul. Dan setiap orang juga akan dapat memahami. Jadi dalam pandangan saya, karena Khalid bukan malaikat, kemungkinan itu selalu ada. Namun ucapan Khalid tentang penerimaannya atas pemecatan juga menunjukkan sisi-sisi kuat sifat manusiawinya. Bahwa seseorang bisa sangat peduli terhadap kehormatannya, harga dirinya, bahkan kesadaran tentang kelemahan diri di hadapan Rabb-nya.
Jadi, kalaupun Khalid sempat kecewa atau marah, transendensi atau hubungan dirinya dengan Allah lebih kuat dan akhirnya mengalahkan penyakit-penyakit hati ini. Inilah kesimpulan saya membaca kisah Khalid.
Lalu bagaimana dengan diri kita?
Bolehlah kita bertanya kepada diri sendiri: dapatkah kita berlaku seperti Khalid bin Walid dalam menempatkan amanah, memenuhi komitmennya, hingga mengembalikan pada saat yang seharusnya?
Bukankah saat ini kita berada di suatu masa di mana setiap orang seperti biasa bahkan dianjur-anjurkan untuk berebut jabatan, posisi yang menjadi incaran banyak orang?
Mengenai hal ini ini, sebenarnya ada panduan dari Rasululullah yang seharusnya menjadi pegangan:
“Wahai Abdurrahman putra Samurah, janganlah minta jadi pemimpin. Kalau kamu jadi pemimpin karena permintaan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri (Allah tidak mau tahu). Tapi kalau kamu menjadi pemimpin bukan atas permintaanmu dan keinginanmu, Allah akan membantumu.” (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan janji bantuan Allah kepada diri kita dalam menjalankan amanah, apapun bentuk dan levelnya. Syaratnya satu, amanah itu bukan kita yang meminta dan menginginkannya. Maka, ketika dalam menjalankan amanah kita mengalami kesulitan dan hambatan-hambatan, janganlah sungkan dan ragu untuk menengadah ke langit: Ya Allah… bukankah Engkau telah berjanji untuk membantuku dalam urusan ini.
Kalau ternyata tidak serta merta berlalu, itu hambatan dan kesulitan,… anggap saja, “ wis biasa, dungo durung Kabul…” haha… Itu tandanya Allah masih mau kita mendekat dan mendekat lebih dekat lagi… hingga pada saatnya…
Birmingham, 13.30. 01.09.2018
*selanjutnya, mari kita lanjutkan dengan diskusi atau berbagi pengalaman.
๐ Tanya Jawab ๐
1⃣ Dian KF 36
Izin bertanya..
Di atas ada hadits yg mengatakan janganlah minta jadi pemimpin, dst.. Klo dlm bidang ke-kormin-an, apakah kita termasuk minta jd pemimpin, ustadz?
Karena kan kita yg dftr untuk jd kormin ๐
Mohon penjelasannya
➡Saya kurang tahu mekanisme penentuan kormin yang dimaksud. hadis di atas sebenarnya sudah jelas, jangan mengaju-ngajukan diri (mungkin dalam hati ada merasa bisa). biarlah kalau akhirnya kita yang kebagian tugas itu karena orang lain (pemimpin kita/orang di sekitar kita) yang menunjuk. itu artinya ada kepercaan kepada kita. inilah amanah kepada kita. dalam mengembannya, insyaAllah Allah akan membersamai dan menolong kita sesuai janjinya.
2⃣ Adi_Fof 1_ustadz mau tanya, bagaimana kalau kita dihadapkan pada calon pemimpin yang mana mereka adalah calon pemimpin yang mengajukan sendiri untuk jadi pemimpin, bukan yang diajukan oleh orang-orang yang percaya pada orang tersebut?
Sementara yang paling baik kan yang memang diajukan.
➡memang demikian, yang paling baik seharusnya diajukan. adapun calon pemimpin yang mengajukan diri (artinya sama dengan meminta jabatan), ya silakan saja. tapi Allah akan berlepas tangan. ini sesungguhnya ujian dari Allah atas diri manusia untuk menyadari lemahnya diri sendiri. manusia tidak bisa bersombong diri, merasa bisa, dsb.
❓Afwan mau melanjutkan pertanyaan
Kalau begitu, apa kita tidak berdosa kalau tidak memilih karena alasan tersebut? Alias golput.
➡kalau dosa, dalil mana yang menunjukkan kita berdosa karena tidak memilih pemimpin yang mengaju-ngajukan diri? hanya ada kaidah fiqih (bukan dalil tentang dosa atau tidaknya) yang menjadi alasan untuk kita memilih seorang pemimpin dalam konteks politik indonesia kekinian, misalnya: "mengambil mudharat yang lebih kecil demi meninggalkan kemudharatan yang lebih besar."
3⃣Asri-DK
ustadz..misal kita daftar jd calon kormin itu karena didukung oleh teman-teman admin atau pengurus lain, disemangatin agar segera daftar atau bentuk dukungan lainnya itu apakah termasuk yg ditujukan oleh hadist tsb?
➡mengikuti pesan hadis di atas, sebenarnya yang harus kita pikirkan adalah bagaimana ada mekanisme penunjukan yang membuat orang-orang yang terpercaya bisa menduduki posisi yang ditawarkan, tanpa membuatnya menawar-nawarkan diri.
4⃣Maaf Ustadz..
Hary_DTMKP..
Ijin bertanya..
Kalo tidak ada calon yg diajukan oleh org lain, gimana dengan keberlanjutan kepemimpinan suatu komunitas ?
Kemudian, bagaimana jika ada yg diajukan, Ybs menolak untuk jadi pemimpin ?
Mohon perkenan arahannya Ustadz..
Syukron..
➡dalam sebuah koomunitas, pasti di situ ada yang orang yang terbaik. tinggal menentukan. sama seperti ketika Anda ketika ketemu beberapa orang di masjid untuk shalat jamaah. masing-masing Anda tidak tahu kapasitas masing-masing untuk menjadi imam. maka muncul sense tertentu dari kita untuk melihat ada yang orang yang pantas menjadi imam, asal jangan menunjuk diri sendiri menjadi imam. di mana-mana, imam itu ditunjuk oleh makmum, afdholnya.
kalau yang bersangkutan menolak (mungkin krn memang merasa dirinya tidak mampu), carilah orang lainnnya lagi sampai ketemu yang terbaik untuk mengemban amanah.
marilah kita perhatikan mulai dari Rasulullah sampai 4 khalifah yang lurus, di antara mereka tidak ada yang mengajukan diri. semuanya tahu, karena tugas kenabian dan kepemimpinan itu berat. jadi, kalau ada yang nafsu 2 periode, itu namanya nggak tahu diri, eeh..... ๐ค
❓Maaf Ustadz..
Gimana dengan pola pendaftaran jadi Kormin saat ini, mengingat qta menggunakan pola pendaftaran dari admin untuk menjadi kormin..
Mohon perkenan arahannya sehingga kami bisa tepat menjalankan amanah di DTMKP..
Syukron...
➡kalau saran saya, buatlah mekanisme pengusulan (semacam sosiometri). setiap orang mengusulkan orang lain. di situ insyaAllah akan terpilih yang terbaik.
5⃣Haifa๐ขdtmkp
Ijin bertanya...terkait jangan menunjuk diri sendiri..nah bagaimana jika ada adminer yg berniat utk ikut cakormin..apa tidak boleh mengajukan sendiri๐คญ
➡siapa bilang tidak boleh... saya cuma mengutip hadis, "kalau engkau meminta, Allah tidak akan menolong dalam semua urusanmu." :)
hahaha... iya hadis itu pagarnya. dalam kenyataan hidup kita, kebanyakan kita tidak mengindahkan ajaran-ajaran hadis seperti ini. toh akhirnya semua jalan saja. yang menjadi persoalan adalah soal keberkahan, ketaatan, resiko akherat. hadis itu seakan-akan berkata: silakan (boleh) saja kamu menjadi pemimpin karena meminta/keinginan. tapi resikonya, tanggung sendiri.
6⃣☘Um Windye_dtmkp
Kalo mekanismenya tidak bisa diubah bagaimana ustadz..
Karena alasan urgensi?
➡Urgensi itu apa? apakah sama dengan emergency? kalau sama, maka berlaku kaidah untuk hal-hal yang bersifat udzur. sepaham saya urgensi itu bisa ditentukan, dikalkulasi, bahkan bisa diproyeksikan. artinya urgensi atau tidak itu bisa diatur..
❓Saya coba jelaskan alur perekrutan Kormin
Kenapa perlu..karena berkaitan dgn amanah syaa di DTMKP
Yang kalo telaah dr jawaban ustadz pertama..tidak sejalanan dgn perekrutan Kormin
Kalo memang cara DTMKP salah.
Saya memding mundur dr DTMKP
Perekrutan Kormin
✅Dibuka lowongan /perekrutan yang terbuka
Artinya siapa aja biasa melamar (dlm.hal ini admin)
Itu artinya seperti yag ustadz bilang diatas..mereka mengajukan diri.menunjuk diri ..bukan di tunjuk
Ini bagaimana Ustad?
Mekanisme yang saya diatas sudah berlangsung dr awal odoj berdiri
➡kalau boleh saya menyarankan mekanisme sosiometri itu... contohnya begini: saya kira dalam komunitas ini, hampir semua sudah saling mengenal. berilah kesempatan kepada setiap orang untuk mengusulkan 3 nama yang menurutnya terbaik untuk menjadi kormin. nama yang muncul terbanyak, insyaAllah menunjukkan bahwa dialah yang terbaik.
7⃣Fiqhy_F12
Hehehe..
Kalau saya jujur.. awalnya karena ingin mengetahui.. kormin seperti apa?
Kemudian menanyakan ke Kormin sebelum saya..
Kemudian Kormin tersebut, menyatakan bahwa saya diminta untuk mendaftar..
Memang.. secara tersirat.. saya mengajukan diri..
Namun.. dari tulisan Ustad diatas..
Saya kemudian memahami..
Bahwa..
Apakah mungkin maksud Ustad, dari hadits tsb diatas adl :
Jika dalam diri merasa bahwa ada kesombongan untuk layak menjadi pemimpin.. maka itu lah yg tidak akan ditolong oleh Allah..
Namun.. jika didalam diri ini.. mengajukan diri, dengan diiringi oleh doa, memohon petunjuk yg terbaik dari Allah.. mungkin itu yg terbaik dari Allah.. mungkin itu yg boleh..
Afwan.. ini jika menurut saya.. ๐๐๐ betul kah ?
➡"Namun.. jika didalam diri ini.. mengajukan diri, dengan diiringi oleh doa, memohon petunjuk yg terbaik dari Allah.. mungkin itu yg terbaik dari Allah.. mungkin itu yg boleh.. " --> kalimat ini.... entah kenapa membuat saya bingung: mengajukan diri, dengan diiringi doa... pertanyaan saya: mengapa mengajukan diri? #tetap sambil senyum ya..
8⃣Anne f29☝๐ป ijin sharing
Ketika kormin menyebarkan info cakormin ke adminnya artinya kormin percaya adminnya bisa melakukan regenerasi.
Soal mampu, saya yakin mereka mampu, tapi ada hal lain... yaitu soal mau. Ada yg mau.. ada yg tidak mau.
Jikalau mau... kita support dengan memberikan ilmu dan diikutkan training... kalo lulus alhamdulillah.
Jadi pemilihan dan regenerasinya sesuai rule yg benar.
Kecuali ada yg mau jadi cakormin tapi tanpa usulan kormin, dan melewati rule yg ada.
Afwan ustadz๐๐ป
9⃣Maaf Ustadz..
Pertanyaan terakhir..
Kalo dikaitkan dengan sistem demokrasi saat ini yg berjalan di Indonesia, dimana setiap org yg ingin menjadi Pemimpin di suatu daerah *WAJIB* mendaftarkan diri ke KPU, bagaimana pandangan ustadz terkait hal tersebut ? Apakah MUI tidak ada rencana untuk mengubah pola pendaftaran tersebut menjadi sosiometri ?
Syukron..
➡apa yang bisa dilakukan oleh MUI untuk mengubah konstitusi. di MUI sendiri ulamanya banyak berbeda pendapat dan macam-macam pikirannya. bagi saya pribadi, sistem yang berlaku di Indonesia ini tidak mengundang pertolongan Allah untuk mengatasi masalah-masalah yang menimpanya. bagaimana Allah akan menolong, sementara orang-orang pintar (elit) di Jakarta merasa benar dengan sistem pilihan mereka. Seakan-akan Allah membiarkan sambil bilang "Hayoo... lakukan semau-maumu, bisa apa kamu jadinya." jadi kalau saya ikut memilihpun hanya dengan pertimbangan, " semoga tidak terjadi mudharat lebih besar".
๐Closing Statement๐
baiklah, amanah itu ibarat seorang anak bagi kedua orangtuanya. anak sendiri itu amanah :). ada kalanya orang tua sangat terhibur dengan kehadirannya, ada kalanya orang tua juga mengalami kesulitan selama pengasuhannya. tapi begitulah cara Allah melanjutkan kehidupan di atas bumi. manusia berturun-turun. Allah memberikan petunjuk-petunjuk, ada yang mengikuti, ada yang tidak. bagi yang mengikuti, maka Allah memperjalanka sesuai dengan sunnatullah-nya ketika orang mengikuti petunjuk Allah, kembali kepada Allah dengan selamat. ada yang meninggalkan petunjuk, dan Allah memperjalankan sesusai dengan sunnatullah-nya ketika orang tidak mengikuti petunjuk, maka mereka kembali kepada Allah dengan tidak selamat. Wallahu a'lam bish-shawab..
ูุงูุณูุงู ุนูููู ูุฑ ุญู ุฉ ุงููู ูุจุฑ ูุง ุชู
©Asri
➖➖➖➖➖➖➖➖
#AIHQ-DK.PSDM ODOJ

Komentar
Posting Komentar